Lewati ke konten utama
PROJECT ZQQ
Bahasa Indonesia

Kota Ome, Tokyo

Menyusuri Lembah Mitake Sungai Tama di bawah jembatan, jalan santai di antara dedaunan musim gugur

Jalur pejalan kaki Lembah Mitake membentang sekitar 4km di kedua sisi Sungai Tama, dengan Stasiun JR Mitake sebagai titik tengah. Begitu turun dari mobil dan mulai berjalan, sungai dan pepohonan musim gugur terasa dekat. Aku mau bercerita tentang pagi yang agak dingin, saat aku merapatkan jaket sambil memandang jembatan.

Ini cerita tentang berjalan menyusuri sungai di tengah dedaunan musim gugur. Yuk, ikuti kisahku sejak pagi yang dingin sampai makan siang di Sawai.

Aku berdiri di tepi Sungai Tama di Lembah Mitake, memandang jembatan sambil merapatkan bagian depan jaket hitam dengan kedua tangan. Aku mengenakan atasan lavender, celana pendek denim, dan stoking hitam.

Musim gugurPagi musim gugur saat dedaunan berubah warna

Merapatkan jaket sambil mendengarkan suara sungai

Begitu turun ke jalur pejalan kaki Lembah Mitake, suara Sungai Tama terasa dekat sekali. Air menghantam batu-batu besar, terbelah menjadi beberapa aliran, lalu menyatu lagi. Di seberangnya terbentang jembatan, sementara kota kecil di tengah pegunungan membentang mengikuti alur sungai. Dari tepi sungai, jauh di bawah jalan yang kulewati dengan mobil, sungainya ternyata jauh lebih besar daripada bayanganku. Aku sampai berhenti melangkah.

Aku merapatkan bagian depan jaket hitam dengan kedua tangan. Aku memakai atasan lavender pucat dan celana pendek denim; karena sudah musim gugur, aku juga memakai stoking. Tapi udara di tepi sungai terasa dingin sampai ke pipi. Baru saja aku berpikir, 'Dingin juga,' lalu mendongak—pepohonan di balik jembatan sudah berubah warna. Jaket masih kurapatkan, tapi aku malah tertawa.

Dari jauh, alirannya tampak sama saja, tetapi dekat bebatuan airnya berbuih putih, lalu kembali tenang saat menjauh. Bergeser sedikit saja sudah membuat suara air terdengar berbeda. Tadi aku berjalan, tapi tak lama kemudian berhenti lagi. Hari ini, rasanya lebih menyenangkan memandangi sungai lama-lama di tempat yang menarik perhatianku daripada berjalan jauh.

Katanya, jalur pejalan kaki itu membentang sekitar 4km di kedua sisi Sungai Tama. Kalau menyusurinya, kita juga bisa mampir ke museum atau ke arah Sawai, jadi jalan-jalannya tak hanya soal pemandangan. Setelah memandangi Jembatan Mitake, aku melanjutkan langkah pelan-pelan sambil penasaran seperti apa rasanya melihat sungai ini dari seberang nanti.

Di Sawanoi-en, Sawai, soba, udon, dan oden bisa jadi bagian menyenangkan dari perjalanan. Suapan pertama udon hangat saja langsung membuat bahuku terasa lebih rileks. Tadinya aku cuma ingin mengisi perut, tapi hangatnya makanan setelah diterpa angin dingin juga terasa menyenangkan. Memikirkan mau makan apa setelah berjalan-jalan ternyata bagian dari perjalanan juga, ya.

Sebelum pulang, aku berhenti sekali lagi di tempat yang menghadap jembatan dan sungai. Tadinya kukira datang untuk melihat dedaunan musim gugur, tapi sekarang aku juga ingin mengingat air yang berputar di antara bebatuan dan suaranya. Pemandangan pagi saat aku merapatkan jaket masih melekat di ingatan, bahkan lebih jelas daripada foto. Lain kali ke Ome, aku ingin benar-benar menyempatkan diri turun ke sungai lagi.

Bagian cerita merupakan fiksi yang terinspirasi oleh tempat ini. Untuk informasi yang akurat, silakan periksa situs pariwisata resmi atau situs informasi.

Foto tempat ini1 gambar

  • Kota Ome, Tokyo · Musim gugur

Yang ingin kucoba selama perjalanan

Soba, udon, dan oden di Sawanoi-en

Di Sawanoi-en, Sawai, ada soba, udon, dan oden. Setelah berjalan sambil merasakan angin sungai musim gugur, semangkuk udon hangat membuatku lega. Perutku sudah kenyang, tapi rasanya ingin kembali mendengarkan suara sungai.

Daya tarik

Sungai Tama yang mengalir di antara bebatuan besar

Kamu bisa menikmati Lembah Mitake yang berubah mengikuti musim sambil berjalan di jalur ini. Sambil melihat jembatan di balik dedaunan musim gugur, aku terpukau oleh aliran air yang terbelah oleh bebatuan lalu menyatu lagi.

Museum-museum di sepanjang jalur tepi sungai

Kamu bisa mampir ke Museum Gyokudo atau Museum Kushikanzashi lewat jalur pejalan kaki. Di depan Museum Gyokudo berdiri pohon ginkgo yang menjadi ikon Lembah Mitake. Menambahkan kunjungan ke museum setelah menikmati pemandangan sungai juga terdengar menyenangkan.

Info jalur

Jalur pejalan kaki Lembah Mitake

Dari Mitake ke Sawai, jalurnya menyusuri Sungai Tama. Aku sempat berhenti di dekat jembatan dan menyimak suara aliran air.

Dalam perjalanan ini, aku juga ingin menikmati waktu berjalan di tepi sungai setelah turun dari mobil. Berjalan sedikit lalu berhenti lagi—ritme seperti itu cocok sekali buatku.